home
login::signup
we::blog

kemudian hari yang baru muncul ketika aku masih lena

kebelakangan ini hari tidak dapat diramalkan, tidak dapat dibaca, tidak dapat diteka, tidak dapat diduga. kalau pagi dilangit hanya redup dan penuh dengan awan yang sendu, awan yang berduka tetapi tiba tiba sahaja matahari gagah keluar dan cahayanya yang panas dan hangat segera pula jatuh bertimpa timpa kerumput, lalang dan bumbung bumbung rumah. panas yang kekar itu tidak pula berlanjutan, sekonyong konyong awan mula kembali merintih, dengarlah laung kilat dan guruh bagai bala tentera kerajaan berkuda datang dari balik bukit bukit untuk mencabut nyawa kami disini. dari jerit kilat dan dentum guruh yang berjajaran dari balik awan dan turun ke atap rumah rumah pangsa, jajaran jajaran kilat mula terukir dikolong langit bagai cempera urat urat nan besar bertingkah, berlawan dan gema gempita berjeritan dan bersambung sambung seperti perlawanan pedang para rasaksa sedang berlansung. alam semakin hitam takala titik pertama hujan menyapa bumi. kemudian titik titik itu bercambah menjadi seribu dan kemudian sejuta hingga ke beliun dan menjadi triliun. sorakkan sorakkan pohonan dan tangisan tangisan para serangga bercampur baur dengan jeritan jeritan lalang lalang dan para rumput. tempikkan tempikkan menatang rahmat bersambung bersama duka duka dari angkatan semut yang riuh menyelamatkan diri, takala hujan yang jatuh dari langit tidak lagi ada peduli pada apa apa, ia jatuh bagai tidak dapat ditahan tahan, sekelian dicurahkan selagi awan tidak kembali berwarna putih..!! 
 
sekian senja yang muncul dari pesta hujan turun menghasilkan malam bungkam yang merangkak perlahan perlahan. aspal yang basah, angin dingin yang longlai, lampu jalan yang suram dan pohon pohon yang diam melukiskan wajah malam nan keletihan. rintik rintik air yang jatuh dari langit terus saja jatuh tetapi tidak lagi terlalu ghairah, titik titik itu cukup cukup saja untuk membasahkan bulu tikus mondok yang mengendong anak dilongkang besar. dari billiun titik itu kemudian hanya menjadi ratusan saja, doa si pengantin baru untuk mendodoikan hujan agar bersambung hingga kepagi tidak dimakbulkan Tuhan barangkali untuk malam ini. pemandu teksi hanya duduk tenang didalam teksi menunggu penumpang sambil melayan keroncong bulan tersangkut didaun kelapa dendangan radio gelombang selatan. penjual kue tiaw menyumpah akan hujan atas kegagalan mempoketkan sejumlah uwang buat melunaskan yuran peperiksaan si amoi. disudut simpang, barangkali pelacur tua tidak peduli akan gincunya yang tercalit hingga kemata. di sudut sudut tiang kedai lama siburung layang layang berbondong bondong mencari tempat untuk memejam mata, semua kelihatan semakin lelah, dingin hujan dan basah aspal menjadi semakin sepi. kehidupan malam beransur pamit, yang tinggal hanya aku masih menaip sambil menyaksikan alam ini berlalu. deru kipas, desing serangga malam, sesekali lalulalang kenderaan dan lerai angin ku gubah menjadi lagu untuk didendangkan buat memejam mata untuk malam yang iseng ini. 
 
hari kemudian berlalu lagi ketika aku sedang tidur, ketika aku sedang tidur kemudian hari yang baru muncul mengetuk pintu alam. 
aku masih lena. 
 
aku masih lena.

last modified Apr 25, 2004 at 9:22



[ add a comment ]