|
lupakan Long...
Dewasa ini Long tidak sangat mempercayai hari yang pijar kerana getar panas yang bertingkah di atas tiang tiang lampu dan ubun ubun pohon akan saja hilang yg kemudian tanpa tergesa gesa di ganti oleh ulit mendung yang bertabrakkan di awan kalau saja mahu ia akan segera menjuraikan hujan yang bermula dengan rintik rintik yang acuh tak acuh saja lalu kemudian turun gegak gempita bagai bumi dan tanah ini di cipta untuk di rempuh dengan berwenang. Long termenung di birai tingkap opisnya, tingkat 12 bangunan kerajaan itu kalau berdiri di birai tingkapnya maka akan berjajaranlah pemandangan bermula dari taman bunga yang indah yang memanjang yang kemudiannya menjatuhkan bayang empat tiang besar masjid biru kedada tasik, awan pula bergerombolan memutih memidai langit, walau bagaimana indahnya pemandangan di depan Long namun Long tetap gusar, ada sakit hati, ada rasa marah yang bertemali dengan geram dan risau, ada rasa kempunan bila setiapkali menelan air liur yang terasa cuma pahit bagai ubat cap kaki tiga si badut. Kocak air di tasik, Long bagai tergambar kocak air Sungai Nil, puncak puncak bangunan, Long bagai terasa puncak piramid tertonjol di daerah permakaman firaun, goyang pohon di tepi tasik, Long bagai tergambar belly dance yang bisa melelehkan air liur...waduhh, Long beberapa kali menelan air liurnya yang semakin pahit itu. abangnya..!!, bagus sangatkah parlimen dan sistemnya yang berjalan di Cairo tu? udah...uda demam tu, bawak ke klinik, takut nanti denggi pulak! selesai Long mendengar suara dari dalam talipon bimbitnya, Long bagai mahu mencampakkannya ke bawah dari tingkat 12 itu, biar bersepai kalau hanya itu yang memuaskan hatinya.
last modified Feb 2, 2005 at 10:19
|