|
Pulang ke denai.
Kalau memang sudah begitu letih dengan bobotan metropolitan, pulang sajalah ke daerah di mana engkau dulu dilahirkan. Di sana barangkali ada ibu dan ayah, ada pohon pohon kelapa yang tinggi dan punya tabir hutan yang membiru. Anginnya masih sama juga, angin yang datang dari urai urai daun dan sunyi bukit bukau. Sungainya masih sama, sungai yang menyimpan segala kerinduan untuk kau basahkan belikatmu. Kelibut akan pamit, duka akan sirna dan yang tinggal cuma engkau bercanda dengan alam.

last modified Dec 1, 2006 at 22:43
melihat foto ni..semakin jelas gambaran zaman kanak2 ku. Rasanya spt aku sdg duduk bertinggung di bwh pohon kelapa tu..sdg mengail ikan keli...(selalunya tak dpt ikan..). Tapi aku amat rindu saat itu...barangkali aku harus memastikan anak2ku juga merasai saat indah itu,agar mereka tidak lupa asal usul mereka.Soalnya..lubuk yg dulu sudah tiada lagi.....sungai pula semakin kecil airnya .
Rinduku pada rumah lama atuk (yang tinggal debu&rangka).
Pada sungai jernih yang kini sudah keruh airnya dan sempit tebingnya.
Pada ladang getah yang kini sudah ditanam dengan pokok-pokok getah baru.
Mujur sahaja Gunung Panti itu masih lagi gah kukuh menghijau di sana.
Temenin baru yang ku rindu sangat.
alangkah indahnya jika punya tempat utk pulang begitu.
tempat yg jadi impian utk habisi hari2 tua
sekawan kambing utk di gembala. mengail ikan di kali ayam itik direban mencari dan memetik pucuk2 utk ulam juadah tengah hari.
|