home
login::signup
we::blog

Terkenangkan Pramoedya Ananta Toer

menjadi orang tua beruban yang kurus dan rokoknya yang sabannya berasap mengingatkan kita pada wajah wajah terakhir seorang lelaki yang ruang hidupnya penuh dengan jeritan jeritan mohon kewajaran laku dan persekitaran buat marhaen yang hidup walang dan terkucil. Aku, pada satu hari yang lalu ketemu puisi lelaki ini, walaupun ia telah kembali kepada ruang sepi kuburnya namun kalamnya masih menconteng, mengetuk minda kita yang masih teroleng oleng ini. Beginilah puisi beliau itu. 
 
Apa yang berharga dari puisiku 
 
apa yang berharga dari puisiku 
apa yang berharga dari puisiku 
kalau adikku tak berangkat sekolah 
karena belum membayar uang spp 
 
apa yang berharga dari puisiku 
kalau becak bapakku tiba-tiba 
rusak jika nasi harus dibeli dengan uang 
jika kami harus makan 
dan jika yang dimakan tidak ada? 
 
apa yang berharga dari puisiku 
kalau bapak bertengkar dengan ibu 
ibu menyalahkan bapak 
padahal becak-becak terdesak oleh bis kota 
kalau bis kota lebih murah siapa yang salah 
 
apa yang berharga dari puisiku 
kalau ibu dijeret utang 
kalau tetangga dijiret uang? 
 
apa yang berharga dari puisiku 
kalau kami terdesak mendirikan rumah 
di tanah pinggir-pinggir selokan 
sementara harga tanah semakin mahal 
kami tak mampu membeli 
salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah 
 
apa yang berharga dari puisiku 
kalau orang sakit mati di rumah 
karena rumah sakit yang mahal? 
 
apa yang berharga dari puisiku 
yang kutulis makan waktu berbulan-bulan 
apa yang bisa kuberikan 
dalam kemiskinan 
yang menjiret kami? 
 
apa yang telah kuberikan 
kalau penonton baca puisiku memberi keplokan 
apa yang telah kuberikan 
apa yang telah kuberikan 
 
Wiji Thukul, Maret 1986

last modified Jun 11, 2007 at 17:49



[ add a comment ]

aku ada bro, keluar berburu.

159967 | posted by loppiess on August 28, 2007 at 0:43

Lope ke mana kamu?

159766 | posted by uipts on July 26, 2007 at 6:08