|
Terkenangkan Pramoedya Ananta Toer
menjadi orang tua beruban yang kurus dan rokoknya yang sabannya berasap mengingatkan kita pada wajah wajah terakhir seorang lelaki yang ruang hidupnya penuh dengan jeritan jeritan mohon kewajaran laku dan persekitaran buat marhaen yang hidup walang dan terkucil. Aku, pada satu hari yang lalu ketemu puisi lelaki ini, walaupun ia telah kembali kepada ruang sepi kuburnya namun kalamnya masih menconteng, mengetuk minda kita yang masih teroleng oleng ini. Beginilah puisi beliau itu. Apa yang berharga dari puisiku apa yang berharga dari puisiku apa yang berharga dari puisiku kalau adikku tak berangkat sekolah karena belum membayar uang spp apa yang berharga dari puisiku kalau becak bapakku tiba-tiba rusak jika nasi harus dibeli dengan uang jika kami harus makan dan jika yang dimakan tidak ada? apa yang berharga dari puisiku kalau bapak bertengkar dengan ibu ibu menyalahkan bapak padahal becak-becak terdesak oleh bis kota kalau bis kota lebih murah siapa yang salah apa yang berharga dari puisiku kalau ibu dijeret utang kalau tetangga dijiret uang? apa yang berharga dari puisiku kalau kami terdesak mendirikan rumah di tanah pinggir-pinggir selokan sementara harga tanah semakin mahal kami tak mampu membeli salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah apa yang berharga dari puisiku kalau orang sakit mati di rumah karena rumah sakit yang mahal? apa yang berharga dari puisiku yang kutulis makan waktu berbulan-bulan apa yang bisa kuberikan dalam kemiskinan yang menjiret kami? apa yang telah kuberikan kalau penonton baca puisiku memberi keplokan apa yang telah kuberikan apa yang telah kuberikan Wiji Thukul, Maret 1986
last modified Jun 11, 2007 at 17:49
aku ada bro, keluar berburu.
Lope ke mana kamu?
|