home
login::signup
we::blog

kitalah bulan dan lampu itu

menjelang senja senja terakhir ini 
menanti malam adalah 
menahan rusuh jiwa yang berombak 
kerana siang berpuput tanpa seulas angin pun 
kerana siang adalah lembah kontang penuh dahaga 
 
mereka ( para al - ruwaibidoh ) 
memberiku wajah wajah konyol dari 
senyum manis dari bibir merah dari 
dendam kesumat dari nafsu berahi dan mimpi dari 
olengan kata kata mulok dari keserakahan yang tersimpan 
dari tabir yang terbuka kini perlahan lahan. 
 
menemukan malam seperti biasa hanyalah gelap 
kecuali ada bulan dan lampu. 
mereka ( para al -ruwaibidoh ) 
berbisik bisik ; 
kitalah bulan dan lampu itu. 
 
February 2008.

last modified Feb 20, 2008 at 17:41



[ add a comment ]