home
login::signup
we::blog

DI SINI LOPPIESS

I must down to the seas again, to the lonely sea and the sky,  
And all I ask is a tall ship and a star to steer her by,  
And the wheel’s kick and the wind’s song, and the white sail’s shaking,  
And a grey mist on the sea’s face and a grey dawn breaking.  
Sea-Fever by John Masefield (1878 – 1967) 
 
 
email: 
zamlope@yahoo.com

last modified Mar 5, 2008 at 16:05


Saturday, June 25, 2005

matahari tak mahu pamit

1
azan zohor baru saja usai, pijar tengahari bulan june ini berguguran di iringi desir angin kering yang menjatuhkan sekelian daun kuning yang longlai. Sekelian rumput yang berduka dan tumbuh-tumbuhan yang berkongsi padang ini menunggu dengan penuh kegusaran akan titik hujan pertama bulan june yang semakin meruncing ini. Gugurlah segera wahai hujan dan jatuhlah engkau bertabrakkan seperti jatuhnya engkau setelah berkurun tidak jatuh atau seperti berahi yang terlalu atau jatuhlah semahumu biar sekelian sugul yang bertapa dan tertebar serata lantai bumi ini kembali ceria, kembali berteriakkan, kembali berpesta, kembali hidup dari kemamaian dan gusar yang beranak pinak pada mulanya. Kembalilah kau wahai hujan, jatuhlah semula seperti sebelumnya dan mengalir kembali dengan hiruk pikuk keserata sungai dan tali air, keserata paya dan belukar, keseluruh padang dan rimba, ke serata gunung dan belantara, beribu nafas yang tercunggap di bawah ini menadah dengan nafas yang panas dan sesak, datanglah kau kembali wahai hujan! datanglah kauu !!!

2
Kepada Pak Lang,
kami masih merindukan Kg Kudei Baru, kami rindukan sungai gadang di belakang rumah Pak Lang, rindukan pelantar kayunya, udang galahnya, patin nya, mahu makan di Satok, mahu berjalan di Waterfront. Semua memuji burger Mak Lang, semua mahu tidur di serambi rumah.

kami sebenarnya mahu ke Mulu, mahu berjalan di hutan, bermalam dirumah panjang, kami mahu merasakan hujan rintik rintik ketika berperahu di sungai, kami mahu basah oleh embun, kami mahu menyanyi bersama burung burung, pohon pohon belian atau jati otai. tapi masa terlalu suntuk.

Joi tak suka tidur di Riverfront, Joi suka Kg Kudei Baru, Joi suka meniti titian, Joi suka mendengar bunyi bot lalu di belakang rumah.

Joi gantung pua kumbu hasil tangan nenek Iban di penjuru tangga, pasu halus Joi letak sebelah TV, tikar segak emas Joi bentang diruang tamu, sumpit Joi ikat di bucu tangga, perisai Joi tampal atas silling, Joi membawa Serawak ke dalam rumahnya !

3
Duduk duduk sajalah Tan Sri, rehat rehatkan badan. Yang dah berlaku jadikan iktibar, Tuhan kasih akan Tan Sri, di beri petunjuk biar tersedar, sempat mengucap, palinglah semula jalan lurus. Kalaulah tak ada apa apa yang berlaku maka kita jarang bermuhasabah, kita rasa kita boleh buat apa sahaja, ada wang semua boleh jadi tapi siapakah yang dapat melawan kuasaNya?, tak kira betapa lama perancangan kita, betapa teliti ia dibuat, betapa canggih teknologinya tetapi kita hanya merancang, ketentuan berlakunya, akibatnya, kesannya semua di tentukan oleh Dia kerana kita ini manusia, tiada kuasa, semua makluk tidak mempunyai kuasa, kuasa hanya dipegang oleh-Nya. Duit hanya asbab, jawatan pangkat hanya sementara guna untuk menguji manusia, adakah dengan ujian yang sedemikian kita gagal? kalau tak keberatan mari keluar empat bulan, berilah azam.

4
Naik

Naik semua Piah,
harga minyak naik
hah, naik naik, ayam naik
sayur naik, beras naik,
susu naik, yuran naik
tambang naik, gilo mu
aku naik, naik hangin
engkau naik, naik gila
selipar naik, darah naik
naik ke muka, naik berang
perut naik nak beranak
laman naik semak
ahli politik naik lemak
duit banyak Piah
nelayan naik perahu
gelisah naik siapa tahu
penoreh naik bukit
hati resah naik sakit
anak naik sekolah
naik haji tambang bertambah
naik semua naik jangan tak naik
naik menyampah ada
naik nak parah ada
jangan naik hantu Piah
banyak sabar naik pahala

abihhhhh...
apanya yang turun..??

jenazah turun ke lahat Piah.

144011 | posted by loppiess at 15:37 | 4 comments

Sunday, June 12, 2005

kepada sahabat sahabat, inilah satu kisah sedih dalam kehidupan orang banyak, aku mendapatnya dari email seorang kawan lalu aku pos kan di DI SINI LOPPIESS agar engkau semua berhenti sejenak dan kembali bermuhasabah.

PEJABAT JAKARTA SEPERTI DITAMPAR.
Seorang warga harus menggendong mayat
anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger
Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL.
Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber.
Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi.

"Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas,
meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari ", ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.

Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Muriski berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono
bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung
berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang sudah terbujur kaku.
Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang
tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat
tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans,
Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama.

"Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia," ujarnya.

Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin, kata Wardah.

.: ari anindya :.

143408 | posted by loppiess at 5:21 | 6 comments

Wednesday, June 8, 2005

sajak orang berburu

begitu sepi
bila malam tua nanar
aku hilang dalam perburuan
demikian sunyi ku
aku kembali berkasih
dengan-Mu.

loppiess
08/06/05

143275 | posted by loppiess at 11:09 | 0 comments